Rangkuman kelas #ATE, 21 September 2013

  • ATELastDay

 

Cherry Hee: Selain ide yang kurang menarik -ini murni kesalahan imajinasi saya xD – aku juga kurang bsa mendiskripsikan tokoh. Apa penting pendipkrisian yang detail? Misal bagaimana wajah atau tingginya? Dan untuk penggunaan bahasa asing seperti korea bolehkah aku memiringkan kata2 asing?

 

Ans: PENTING BANGET. Saya rasa mendeskripsikan tokoh secara detail akan memudahan pembaca mengenali karakter yang kita buat. Dengan begitu, adegan yang kalian tuliskan akan lebih tergambar jelas dan mudah ditangkap oleh pembaca. Pendeskripsian mengenai tinggi badan, postur tubuh, kontur wajah mulai dari dahi sampai dagu, bentuk jari dan lain sebagainya menurut saya pribadi itu lebih mengena dari pada saya menggambarkan tokoh yang saya buat dengan kata ‘tampan’ atau ‘cantik’ saja. Misalkan saja, seperti ini. Jika saya menggambarkan sosok Kim Myung Soo member Infinite dengan satu kata tampan saja, rasanya bagi orang yang belum mengenal seperti apa Kim Myung Soo itu akan terasa gambar. Misal pendeskripsiannya seperti ini:

 

(Sekalipun sama-sama member boyband, bagiku Myung Soo sudah sangat memenuhi kriteria pria idamanku. Dia tampan. Sebenarnya hanya itu saja, jika dibandingkan dengan mantan kekasihku si Cho Kyuhyun yang kurang ajar itu, Kim Myung Soo jelas lebih tampan darinya. Sikap arogan Kyuhyun pun sudah mengurangi tingkat ketampanannya ketimbang Myung Soo yang baik hati dan lembut.)

Dalam paragraf itu jika saya pembaca ff kpop newbie saya nggak akan bisa membayangkan seperti apa Myung Soo itu. Tapi kalau kalian lebih jelas dan spesifik seperti apa deskripsi mengenai ketampanannya, mungkin setidaknya saya bisa membayangkannya seperti apa makhluk bernama Kim Myung Soo itu. Bandingkan dengan ini:

 

(Sekalipun sama-sama member boyband, bagiku Myung Soo sudah sangat memenuhi kriteria pria idamanku. Dia tampan. Aku takkan berkata seprti ini jika aku tak memiliki bukti konkret mengenai ketampanannya. Ia dikarunai tatapan tajam dengan mata yang indah oleh Tuhan. Tak hanya itu, senyumannya yang terlahirdari bibir tipisnya dan rahangnya yang tegas membuatku selalu merasa seperti itik buruk rupa yang tak pantas mendapatkan cinta yang besar darinya. Dan bahkan jika dibandingkan dengan mantan kekasihku si Cho Kyuhyun yang kurang ajar itu, Kim Myung Soo jelas lebih tampan darinya. Sikap arogan Kyuhyun pun sudah mengurangi tingkat ketampanannya ketimbang Myung Soo yang baik hati dan lembut.)

 

Kalau begini saya setidaknya bisa membayangkan bagaimana tatapannya, senyumannya dan rahangnya yang tegas dengan deskripsi yang hanya sekelumit itu.

 

Lalu mengenai kata asing yang yang dicetak miring, memang dianjurkan. Selama saya membaca novel terjemahanpun saya juga menemukan hal yang serupa. Jadi memang perlu dicetak miring, dan cantuman foot note untuk kata yang dicetak miring itu nantinya.

 

  • ATELastWeek

Hanind: Gimana cara bikin karakter yg gak mainstream? Maksudku, ga melulu karakter yg ‘biasa’ ada. Aku ngrasa masih agak kesulitan di sini, ssaem. Apa ada beberapa tips atau semacemnya? Karena aku pernah bca, kebyakan penulis menciptakan watak karakter itu hampir selalu deket dg karakter penulis itu sendiri. Gimana untuk menciptakan karakter yg menyimpang dari dirinya sendiri?

 

Ans: Kebanyakan berarti tidak semuanya kan? Maksud saya begini, semisal saya penulis yang membuat karakter tokoh yang tempramental dan psycho, apakah saya orang yang bisa dipastikan memiliki karakter seperti itu? Sebenarnya karakter itu bisa dibangun dengan berkaca, meneliti, mempelajari, mengolah dan mengenali orang-orang yang berada di sekitar kita. Kadang karakter yang kita bangun juga merupakan karakter yang terlahir dari harapan seorang penulis itu sendiri. Di dunia ini ada jutaan wajah dengan karakter yang berbeda dan tak memiliki kesamaan karakter yang identik. Sehingga hal yang anti mainstream yang kamu katakan itu, pastilah bisa kamu ciptakan nantinya asal mau belajar dan terus belajar dari kesalahan.

 

Kalau menurut pengalaman, jika ingin menciptakan sebuah karakter yang berbeda dan menyimpang dari biasanya, banyaklah membaca buku dan berkunjung ke google. Saya pernah membuat sebuah ff dengan karakter seorang dokter pria yang psycho dan suka menjual ginjal pasiennya yang memiliki kemungkinan hidup kecil. Kisah ini terinspirasi saat saya tak sengaja bermain ke google dan mendapatkan daftar dokter dengan kepribadian psycho dan jahat. Kemudian saya menciptakan karakter dokter psycho versi saya dan jadilah ff itu. Maka, menurut saya, hal yang perlu dilakukan adalah membaca dan manfaatkan fasilitas telekomunikasi yang ada. Gunakan facebook dan media social lain untuk hal yang bermanfaat seperti mempelajari ilmu-ilmu baru tidak hanya mengenai kepenulisan tetapi juga ilmu lain seperti kedokteran, seni, sains dan lain sebagainya. Bekunjung ke google juga sangat dianjurkan, karena saya berpendapat kalau sekarang perpustakaan saja sudah kalah dengan google. =,=

 

  • ATELastWeek

Fika Ca’em: Maaf ssaem, saya sering keliru dalam padanan kata, bisakah Ssaem menjelaskan bagaimana cara memadukan kata agar bisa menjadi diksi yg bgus?

 

Ans: Yang pertama, tips dari saya adalah mencari kata dasar dari sebuah kata. Mengenali imbuhan dan maknanya, mempelajari kegunaan kata itu dan artinya.

 

Yang kedua adalah sering mencari sinonim dan antonim dari kata yang kamu pelajari, dengan begitu kosa kata kamu bisa meningkat juga nantinya.

 

Yang ketiga mempraktekkannya. Mendengarkan kritik dan saran lalu diperbaiki.

 

Yang ketiga, banyak membaca dan menulis.

 

Hanya itu, sederhana.

 

  • ATELastWeek

Septi Iswari: mau tny…. cara buat ff dr sudut pandang org pertama yg bagus tuh gmna ya? (tipsnya)…

 

Ans: Sebenarnya saya sih tidak memiliki tips khusus untuk yang satu ini. Tapi sebenarnya tanpa tips pun ini sebenarnya amat sangat mudah. hehehe

 

Sudut Pandang Orang Pertama (First Person Point Of View) adalah saat dimana kamu akan merasakan dari sudut pandang salah satu tokoh. Kamu nggak akan bisa menjelahi sudut pandang tokoh lainnya. Pendapat mengenai tokoh diluar POV-nya tergantung dari sudut pandang POV pertamanya. Dengan demikian, rasa personal dan mendalam pada perasaan salah satu tokoh terasa di hati pembaca.

 

Orang yang baru menulis cerita biasanya lebih banyak memakai POV orang pertama. Ini memang lebih mudah. POV pertama menceritakan diri sendiri tanpa perlu susah-susah mencari dari sudut pandang orang lain (bukankah biasanya kita begitu?). Gunakan POV ini jika anda baru saja menulis fiksi.

 

Namun saya pernah membaca (lagi-lagi dari google =,=) kalau pov pertama pun memiliki banyak jenis, yaitu:

 

Pertama, First Person Central, dimana sang narator / tokoh POV bercerita mengenai kisah dirinya sendiri dari awal sampai akhir. Ini adalah sudut pandang yang paling banyak dipakai–hampir setiap penulis selalu mulai belajar bercerita melalui sudut pandang ini melalui diary masing-masing–dan relatif lebih mudah dikuasai dibanding jenis lainnya. Banyak contohnya, silakan cari dan lihat di dekat anda. hehe…

 

Kedua, First Person Peripheral, dimana sang narator / tokoh POV bercerita mengenai kisah orang lain yang ada di dekatnya, yang sebenarnya adalah tokoh sentral dalam cerita tersebut. Ini biasa dilakukan jika sang tokoh sentral tersebut terlalu pandai dan tahu segala hal (cerita Sherlock Holmes diceritakan melalui POV Watson, atau Poirot oleh Hastings), atau sang tokoh sentral tersebut sinting, atau unreliable (tidak bisa dipegang kata-katanya alias terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dari pembaca), sehingga tidak mungkin menjadi narator, sehingga kemudian diciptakanlah tokoh pendukung di sampingnya. Tapi ada juga pengecualian, yaitu beberapa penggunaan unreliable character sebagai narator yang berhasil, contohnya adalah pada The Murder of Roger Ackroyd karya Agatha Christie. Saya sudah mencoba yang satu ini loh, hahahaha. Dan memang saya akhirnya jadi ikutan sinting =,=

 

Ketiga, First Person Peripheral Plural, yang sangat jarang dipakai tapi ada juga yang berhasil menjadi karya bagus, dimana naratornya adalah sekelompok orang yang bercerita bersama-sama mengenai sekelompok orang lainnya, dimana yang terakhir ini adalah tokoh sentralnya. Menggunakan kata ganti ‘kami’ atau ‘kita’, bukannya ‘aku’ atau ‘saya’.

 

Keempat, First Person Serial (baik tokoh Central maupun Peripheral / pendukungnya), dimana cerita berpindah-pindah disampaikan melalui satu narator ke narator lainnya. Seringkali masing-masing pemikirin narator tersebut kontradiktif. Teknik ini dipakai jika kita ingin menggali pemikiran/konflik setiap tokoh dan tidak ingin dibatasi pada satu tokoh saja. Contohnya? Silakan dicari juga. Tapi sebagai contoh, teman baik yang saya komentari di Multi POV, Multi Plot, Multi Halaman menggunakan teknik ini. (Saya kurang paham dibagian yang ini, tolong jangan tanyakan lagi. Atau saya nanti gantung diri dan kelas #ATE bubar =,=)

 

Cr: rdvillam.com

 

Nah setelah kamu bisa menentukan sudut pandang orang pertama mana yang kamu ambil, kamu pasti bisa membuatnya lebih baik lagi asal mau mencoba dan terus belajar.

 

  • ATELastWeek

Vivhy Delvina: Ssaem, gimana cara memadukan gaya bahasa yg lumayan ‘dewasa’ dengan bahasa sehari-hari agar menjadi diksi yg bagus? Trus kalo mainstream itu apa ssaem? Gomawo..

 

Ans: Sebentar gaya bahasa yang dewasa yang bagaimana ini maksudnya? Saya nggak mau loh ngajari yang nggak bener di kelas ini. Hahaaha. Kalau saran saya sih yang dewasa pakai tanda kutip seperti itu dihindari yah. Bukannya apa-apa sih, kalau ditiru sama anak-anak gimana?

 

Tapi kalau dewasa yangg nggak menggunakan tanda kutip mungkin sama dengan pelajaran diksi yang sudah pernah kita bahas sebelumnya. Ini sudah bolak balik deh saya bahas rasanya. =,=

 

Mainstream itu bahasa asing tapi udah slang begitu. Kalau diartikan satu persatu, nggak akan nyambung. Main itu artinya kalau dikamus bahasa inggris artinya sih pipa saluran air; pokok; utama; besar; penuh; induk. dan stream artinya sungai kecil; aliran; cucuran. Kalau digabungkan maka artinya akan nggak nyambung dengan penggunaan kata mainstream itu sendiri. Menurut kamus slang ala saya pribadi, mainstream itu adalah lifestyle atau benda yang lalu dijadikan kebiasaan yang sangat UMUM dilakukan oleh setiap orang atau hal-hal yang sudah sangat umum diketahui oleh sebagian besar orang.

 

  • #ATE

Wina Marchi Fitria: Menurut ssaem, FF dengan cerita soft story tanpa konflik itu bagus ga? Jadi konfliknya hanya dari hal sepele yang mungkin kadang ga terpikirkan oleh orang lain kayak pertengkaran kecil karena salah satu dari cast menjahili cast yang lain bukan konflik-konflik berat seperti sakit parah, diselingkuhin, meninggal karena kecelakaan, amnesia dll?? Thx ssaem

Ans: Saya suka nih pertanyaan yang menggunakan kata ‘menurut ssaem’ hahhah. Kalau masalah bagus itu relatif sih, kadang ada reader yang suka dengan hal itu. Kadang juga ada yang nggak suka. Kembali ke selera, kalau kebutuhan cerita itu hanya untuk hiburan sih nggak masalah. Tapi kalau hal serius seperti lomba dan lainnya rasanya kurang bagus. Soalnya saya pribadi masih berpendapat kisah yang cantik adalah kisah yang memiliki pesan didalamnya. Entah itu mengenai perjuangannya atau hal lain yang ada dalam cerita itu, rasanya itu lebih meenjadi favorit saya.

 

Oh ya sedikit cerita nih, supaya kamu juga bisa mengerti sama maksud saya selanjutnya. saya pernah diberi tahu teman saya saat saya bingung untuk memutuskan judul skripsi saya kala itu. Saya masih bingung dengan jenis skripsi yang mau saya ambil, antara deskriptif atau korelasi. Awalnya saya mau mengambil deskriptif karena lebih mudah. Tapi, teman saya itu bilang lebih baik ambil korelasi sekalipun susah. Kenapa? karena itu ada tantangannya. Ketika kamu sudah terbiasa dengan hal besar, susah, memusingkan, dan terlalu menantang, maka ketika kamu menemukan hal mudah dan jauh dari kata rumit dalam hidup kalian maka kalian akan lebih santai melewatinya.

 

Nah maksud saya dari kisah saya ini, sebenarnya hal ringan yang mau kamu angkat dalam cerita itu nggak masalah saja. Santai, menulis itu bebas kok. Tapi, ketika kamu sudah terbiasa menulis hal mudah untuk diri kamu sendiri, ketika kamu dihadapankan pada permasalahan atau tantangan yang lebih berat kamu pasti akan kesusahan melewatinya. Tapi kalau sudah biasa menulis yang berat-berat, biasanya hal ringan seperti itu akan mudah terlewati. Saran saja, setiap menulis usahakan memberi tantangan untuk tulisan kamu sendiri. Misal, kkamu biasa menggunakan kisah yang fluff, sekarang ganti genre yang tragedy. Ketika sudah biasa nulis drable, tantang diri kamu nulis oneshoot yang lebih panjang. Ketika sudah biasa dengan multi pov, coba tantang pakai single pov. Dengan begitu kamu akan terlatih nantinya. Dengan begitu, mau kamu menulis berat atau ringan sudah bukan masalah lagi karena kamu punya kualitas untuk semua tulisan kamu.

 

Semoga bermanfaat ^^

 

cr: Miss A @kpopfanfictionschool

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s