Rangkuman kelas #ATE, 14 September 2013

  • #ATE

 

Nabilla Salsa Fahira: sebenernya absurd itu gimana sih? membingungkan / gila / gimana? hehehe

 

Ans: Menurut KBBI 2008, kata absurd itu merupakan adjektiva atau kata sifat. Artinya: mustahil; tidak masuk akal. Dalam KBBI Online, artinya: tidak masuk akal; mustahil. Sama.

 

  • #ATE

 

Lia Agustin: Sebenarnya apa sih yang membuat seorang readers terpengaruh untuk membaca fanfiction dari author tertentu? Galau

 

Ans: In my humble opinion, biasanya kecenderungan pembaca dalam menyukai sebuah tulisan itu karena mereka kenal authornya. Saya pribadi masih sering menggunakan sikap nepotisme itu ketika mambaca sebuah cerita. Tapi, biasanya, kita nggak akan kenal author itu kalau karyanya tidak memiliki ‘sesuatu’ dalam tulisannya.

Misalnya, ada seorang author yang menjadi favorit saya sekalipun saya tidak mengenalnya. Karena memang dia memiliki tulisan yang bagus. Mulai dari segi cerita, penulisan, author’s attitude, pesan yang disampaikan lewat tulisan itu, dan lain sebagainya sanggup menyentuh hati saya sebagai pembaca. Alhasil saya menyukai tulisannya.

 

Atau ada lagi, karena author tersebut terkenal. Mungkin ceritanya biasa saja, terlalu mainstream dan tidak memiliki sentuhan magis (?) yang sanggup menyentuh hati pembaca seperti saya. Tapi karena dia banyak mengeluarkan tulisan, banyak yang tahu tulisannya, jadi banyak juga yang membaca pada akhirnya. Sehingga ia terkenal, dari mulut ke mulut, jari ke jari, dan akhirnya banyak pembaca yang terkesan betapa produktifnya ia membuat tulisan hingga mereka jadi tertarik untuk membaca salah satu karyanya.

 

Atau juga, seperti yang saya sebutkan di awal, karena mereka kenal authornya maka dari itu mereka tertarik membacanya. Misalkan, saya pribadi kenal dengan author itu sebagai teman virtual di dunia maya, makanya saya tertarik baca untuk tahu seperti apa tulisannya. Hingga besok-besok saya maish mau membaca karena adanya ‘hubungan’ pertemanan itu. Bukan terpaksa, hanya merasa mempunyai tanggung jawab untuk menghargai karya orang lain saja.

 

Dan masih banyak alasan lain lagi, sebenarnya tak perlu memusingkan berapa banyak reader yang mau membaca cerita kalian. Tulis yang baik saja dari hati, urusan ada yang dibaca atau tidak itu di luar kuasa kita. Tuhan sudah menentukan nasib dan takdir dari tulisan yang kita buat kok. Tak perlu khawatir

 

  • #ATE

Diana Rahayu: biasanya ada peletakan koma pada kalimat seperti “kamu mau kemana, ar?” , harus kah seperti itu atau bisakah “kamu mau kemana ar?”

 

Ans: Ah, saya sudah sering membahasnya kalau tidak salah mengenai tanda baca seperti ini. Jadi begini revisinya:

 

“kamu mau kemana ar?” menjadi “Kamu mau kemana, Ar?”

 

Sudah bisa dilihat perbedaannya?

 

  • #ATE

 

1. Ismi Indriyani: Konflik yg baik itu gimana ya ssaem? terus cerita itu lebih baik narasinya yang banyak, atau dialognya?

 

2. Ini satu tipe dengan pertanyaan Myeen Kyu Saem: aku mau nanya nih, menurut saem dalam sebuah ff yg baik berapa kira2 prosentase narasi dan dialog?? Bisa ngga lo narasinya lebih banyak? Trus satu lagi saem. Setiap menulis, sya selalu kesulitan pas nulis dibagian awal ff. Kira2 penyelesaiannya gimana??

 

Ans: Sebelum menelaah konflik yang baik itu seperti apa, mungkin saya bisa memberikan sebuah catatan yang saya dapat dari sebuah web. Silahkan disimak dengan baik.

 

1. Karena konsep ide cerita yang kurang mendukung

Terlalu memaksakan memilih tema yang sangat sulit anda kembangkan, sehingga ketika kita mulai menulis. Ide-ide terasa berhenti ngalir–butuh energi extra untuk itu. Jika anda termasuk seorang penulis pemula seperti saya, maka memilih tema yang terlalu ‘unik’ justru akan membunuh kreatifitas kita dalam membangun plot dan konfliknya. Berbeda dengan penulis-penulis kawakan yang sudah terbiasa mengubah hal-hal remeh menjadi cerita yang sangat menarik dan ‘mengejutkan’. Saran saya, sebelum memulai menulis serpen atau novel ada baiknya pemilihan tema disesuaikan dengan ketertarikan, kapabelitas, dan level kreatifitas anda. Let’s let it flow. Perlahan, kita sama-sama menjadi penulis hebat.. yang degan mudahnya mengubah sebuah ide-ide biasa menjadi sebuah cerita yg mengandung konflik ‘berkualitas’

 

2. Perencanaan Outline cerita yang kurang matang

Kerangka karangan anda belum sistematis dan detail, lagi-lagi banyak diantara kita mengabaikan kerangka karangan (outline), sebagian menganggap outline adalah mesin pembunuh kreatifitas dalam berimajinasi, syah-syah saja beranggapan seperti itu, Asalkan ditengah-tengah menulis cerpen/novel anda bisa tetap fokus tanpa adanya outline si penunjuk arah.

Lantas apa hubungan outline sama konflik? gini deh, kerangka karangan akan membantu anda dalammenata cerita–pun konflik-konflik di dalamnya. Nah, ketika mandeg dan daya imajinasi kita habis, maka outline membantu memori kita mengembangkannya ulang.

 

3. Kurang membaca, Minim ilmu

Bagaimana kita mau membangun sebuah cerita yang baik dengan konflik yang mendukung untuk itu, jika pengetahuan kita sedikit. Diperlukan banyak pengetahuan untuk membuat sebuah cerita, misalkan anda mau menceritakan seorang agen rahasia amerika, tapi anda tak tahu bagaimana tehnik-tehnik spionase, tak tau nama-name agensi dinas rahasia, dll. lantas bagaimana konflik tersebut akan terbangun dengan baik?? Yah, seorang penulis hendaknya adalah seorang pembaca yang baik, penonton televisi yang proporsional memilih chanel dan program acara, seorang pendengar radio, intinya otak kita harus diisi bukan hanya tentang dunia literasi.. tapi juga pengetahuan-pengetahuan lain yang mendukung usaha kita mengembangkan sebuah cerita.

 

cr: namaku3kata.blogspot.com

 

Kalau dari apa yang saya bicarakan dengan salah seorang penulis beberapa waktu lalu, perbandingan dialog dan narasi yang baik adalah 50:50

 

  • #ATE

 

Indah Purnama Dewi: Aku masih kesulitan menemukan dan menentukan judul yang sesuai dengan ceritaku, yang menarik tapi tetap erat dengan cerita yg kubuat, tapi tetap juga membuat org penasaran.

 

Ans: Ah, sama kok dengan saya. Heheeh, kok jadi ajang curhat begini.

 

1. Mungkin begini awalnya, Buat judul yang menarik, enggak pasaran juga enggak membosankan. Jadi yang baca cerita kita bisa langsung mengingat dan tersentuh. Misalkan: Kita sering menemukan kata ‘chu’ ‘kiss’ dalam judul ff. Ya kan? nah kalau bisa itu dihindari saja, bukannya saya berpendapat itu jelek. Terlalu pasaran kan juga nggak bagus. Jadi nanti terkesannya nggak kreatif.

 

2. Buat judul yang bikin penasaran. Judul bisa juga berupa kalimat tanya loh yg penting mengundang penasaran pembaca. Misalkan: Kenapa Onew Takut Ban Sepeda?

 

3. Judul juga harus unik. Saya pernah menemukan satu judul ff yang unik menurut saya waktu blog walking dan menjadi salah satu pembaca di sebuah page ff. Misal: If, Us, You, Just dll.

 

4. Buatlah judul pelesetan dari judul yang udah ada. Misalkah: Bambang Style (Plesetan dari Gangnam Style)

 

5. Perhatikan jumlah suku kata dari judul yang kamu buat. Karena judul yang panjang juga akan susah diingat oleh pembaca, mau semenarik dan semenyentuh apapun itu. Jujur, ini sangat menykisa pembaca seperti saya yang sulit mengingat hal demikian.

 

6. Jika menggunakan bahasa asing usahakan kalian sudah menanyakannya pada orang yang ahli dengan bahasa itu. Sangat tidak lucu kalau judul yang kalianbuat terlihat keren, tapi ternyata dari segi kebahasaan salah semua. Ya kan?

 

7. Kalau bisa, gabungkan dua kata yang bersebrangan jadi sebuah judul. Pernah baca karya raditya dikha kan? Nah itu salah satunya, baalan menarik pembaca kalau judul yang kalian tulis itu bisa semenarik “Marmut Merah Jambu” nya mas Raditya Dikha.

 

8. Menurut Watase Yuu (salah satu penulis komik Jepang), setelah 1 cerita selesai, coba kalian tuliskan minimal 20 kata yang mencerminkan isi ceritamu. Atau tuliskan 100-200 kata kunci yang mewakili ceritamu. Kemudian, padu padankan kata-kata kunci itu untuk jadi 1 judul yang oke banget untuk ceritamu. Cari paduan kata yang menarik.

 

  • #ATE

 

1. Ismi Maryani Putri: menurut Ssaem, FF yg brbobot it gmn? pke dialog/narasi dg diksi indah ato diksi” yg ringan? 

 

2. Ini satu tipe pertanyaannya dengan milik Wina Marchi Fitria: sejauh ini aku ga ada pertanyaan cuma FF yang bagus menurut ssaem gimana?? Haruskah dengan kata-kata puitis menyentuh hati dan jiwa/? ?? Ato mengangkat tema yang jarang digunakan author lainnya?? Makasih ssaem ^^

 

Ans: Kayaknya pembahasan masalah diksi kemarin sudah kita bahas ya, Sayang masalah diksi itu tergantung dari apa yang kita tulis. Bukan mengenai indah atau tidak. Diksi itu mengenai kecocokan cerita, nggak lucu aja kalau kamu buat cerita misteri dan drama malah menggunakan diksi yang kocak kan? Jadi itu tergantung dari kesesuaian cerita saja. Dan seperti yang sudah saya bahas sebelumnya tadi, dialog dan narasi itu perbandingan yang baik adalah 50:50. Bukan dipilih salah satu, tapi di gabung jadi satu dan kapasitasnya juga diperhatikan.

 

Kalau bertanya mengenai ff yang berbobot nih ya, bukan mengenai selera ya… Yang pasti memperhatikan kaidah menulis yang baik tentunya. Klise ya? Memang, tapi kita membicarakan mengenai hal yang berbobot disini. Bukan mengenai selera lagi.

 

1. Memperhatikan penggunaan tanda baca dan diksi. Ini penting, tanda titik dan koma memiliki penggunaan yang berbeda. Tanda baca dobel juga bisa mengganggu pengelihatan. Elipsis pun memiliki aturannya yang benar. Layout membantu pembaca kita yang memiliki pengelihatan kurang baik (minus, silinder, dll). Bukan hanya tahu dimana meletakkannya tapi juga tahu fungsinya. tidak terfokus pada kalimat indah saja namun titik utama cerita tak diindahkan.

 

2. Menyamakan napas antara penulis dan pembaca. Penulis menggunakan tangannya untuk menciptakan dunianya, pembaca menggunakan napasnya untuk masuk ke dalamnya. Pernah berpikir kalau tanda baca itu berpengaruh pada napas pembaca? jika penulis tak bisa menyamakan napas itu, maka saya anggap tulisannya kurang berbobot karena ada keegoisan disana.

 

3. Paragraf dan Alur Cerita saling terkait dengan apik. Tidak berjauhan dengan judul yang ada.

 

4. Penokohan dan interaksi antar tokoh. Kekuatan plot yang bisa diuji dan dapat diacungi jempol juga bisa disebut menjadikan cerita itu berbobot.

 

5. Otentik. Ini yang terpenting, apakah yang kita tulis memiliki cir kkhasnya sendiri?entah dari segi diksi, gaya bahasa, cerita, penokohan dan lain sebagainya. Apakah terlalu banyak kemiripan dengan yang lain? Itu juga bisa jadi pertimbangan apakah cerita itu berbobot atau tidak.

 

  • #ATE

Nisa Riyanto: Tanya… Buat FF berchapter yang tetep seru seru it gmana –“. *Pertanyaan mcm apa ini *… hehehe soalnya aku nggak pernah sekalipun buat ff berchapter dan aku mau nyoba. Bagi bagi tipsnya yah..XD

 

Ans: Kalau saya tipsnya sih simple, sebelum kalian posting ff itu, buat dari part 1-end terlebih dahulu. Untuk posting, kalian bisa ambil per partnya dan bisa diedit ssebelum posting supaya cerita kalian tidak mandek di tengah jalan. Usahakan, setiap part isikan konflik, tak perlu yang berat. Ringan saja asal membuat penasaran. Dan yang terakhir, sesekali lakukan apa yang disarankan pembaca. Tak perlu semua, pilih yang menurutmu mungkin bisa membantu kelanjutan cerita kamu dan dapat membuatnya nampak menarik.

 

Semoga bermanfaat teman-teman semua. Keep writing ^^

cr:  Miss A @kpopfanfictionschool
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s